“Rindu Sosok Ayah”
Aku Maryam, saat ini Aku berusia 19 tahun. Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Keluargaku terdiri dari enam orang. Yaitu Ayah, Ibu, Aku dan tiga orang Kakak ku, Aku anak perempuan satu-satunya yang Ayah dan Ibu miliki. Aku sangat bahagia, mempunyai keluarga yang harmonis dan sangat sayang kapadaku, kebahagiaan selalu menghiasi har-hari kami.
Tentang Ayahku yang selalu kurindukan, sudah 2 tahun Ayahku pergi meninggalkan kami. Beliau meninggalkanku saat aku masih berusia 17 tahun , saat aku masih belum sepenuhnya merasakan kasih sayang seorang ayah. Dia pergi ke tempat yang tak bisa kujangkau sekarang ini, ke tempat yang abadi dan penuh dengan kebahagiaan. Dia pergi meninggalkan ibu yang adalah kekasih terhebatnya yang adalah mutiara abadinya, dia pergi meninggalkan kami dan yang pasti dia pergi meninggalkanku pada 1 syawal 1437 Hijriyah/ Pada Minggu 25 Juni 2017 Ayahku jatuh sakit dibulan suci Ramadhan seminggu menjelang Hari raya idul fitri Ayah jatuh sakit selama 4hari, dan itu waktu yang begitu cepat bagi kami untuk merawat Ayah.
pada hari 4 pukul 01: 30 ayah begitu gelisa, Ayah mondar-mandir dan selalu menanyakan sekarang jam berapa?..sampai pada pukul 03:40 Ayah tetap menanyakan sekarang jam berapa. Jika pertanyaan itu tidak kami jawab, Ayah sendiri yang berusaha bangun untuk keluar menuju ruang tamu untuk melihat jam. Dan pada pukul 05:15 disitulah Ayah sudah tidak kuasa untuk bangun, dan pada saat aku tidur di samping Kakak ku yg ke 3, lalu ibu menemui kami, Nak, ayo kita kemar dulu, namun disaat Ibu membangunka kami aku merasa Ibu sedang menangis. Tapi Ibu belum berakata-kata terus aku dan Kakak langsung bergegas menemui Ayah yang sudah terlentang dipelukan Kakak-Kakak ku, lalu aku bertanya ada apa dengan Ayah?, dan ada diantara sekerumunan itu ada menjawab biarlah Ayahmu ingin tidur, tapi bibirnya bergerak entah apa yang ayah ucapkan. Aku sempat memeluk dan melihat wajah Ayah. Ayah seperti tertidur pulas dan tersenyum saat itu. Menurutku Ayah tidak meninggal, Ayah hanya ingin tidur. Ayah seharian sudah lelah bekerja, mungkin ini waktunya Ayah tidur. Namun semua itu adalah kuasa Allah, aku menyayangi Ayah tapi Allah lebih menyayangi Ayah.
pada hari 4 pukul 01: 30 ayah begitu gelisa, Ayah mondar-mandir dan selalu menanyakan sekarang jam berapa?..sampai pada pukul 03:40 Ayah tetap menanyakan sekarang jam berapa. Jika pertanyaan itu tidak kami jawab, Ayah sendiri yang berusaha bangun untuk keluar menuju ruang tamu untuk melihat jam. Dan pada pukul 05:15 disitulah Ayah sudah tidak kuasa untuk bangun, dan pada saat aku tidur di samping Kakak ku yg ke 3, lalu ibu menemui kami, Nak, ayo kita kemar dulu, namun disaat Ibu membangunka kami aku merasa Ibu sedang menangis. Tapi Ibu belum berakata-kata terus aku dan Kakak langsung bergegas menemui Ayah yang sudah terlentang dipelukan Kakak-Kakak ku, lalu aku bertanya ada apa dengan Ayah?, dan ada diantara sekerumunan itu ada menjawab biarlah Ayahmu ingin tidur, tapi bibirnya bergerak entah apa yang ayah ucapkan. Aku sempat memeluk dan melihat wajah Ayah. Ayah seperti tertidur pulas dan tersenyum saat itu. Menurutku Ayah tidak meninggal, Ayah hanya ingin tidur. Ayah seharian sudah lelah bekerja, mungkin ini waktunya Ayah tidur. Namun semua itu adalah kuasa Allah, aku menyayangi Ayah tapi Allah lebih menyayangi Ayah.
Kau tau ayah? Aku histeris saat itu. Aku berteriak layaknya orang gila. Ayah bangun, yahh bangun,berkali-kali Aku memohon agar ayah bisa mendengar tangisanku. Aku benar-benar hancur saat itu. Pikiranku kosong. Terlebih saat ku melihat sesosok tubuh yang tertutupi kain putih. saat itu aku mengaharap bukan kau dibalik kain putih itu. Ternyata saat ku singkap kain putih itu. Hatiku hancur. Benar-benar hancur. Mimpi-mimpi yang dulu sering kita bicarakan telah hilang tak bersisa. Rencana-rencana masa depan yang kau impikan. Seketika itu menjadi butiran debu. Aku meratap di samping tubuhmu. Kupeluk dirimu. Ayahku, apa yang harus kulakukan? Sedang penopang hidupku adalah dirimu.
Ayah, Dan tahukah saat kepergianmu aku jatuh sakit , aku sakit karena merasa sangat kehilanganmu, Aku menangis setiap malam. Setiap sujud terakhirku aku curhat pada Allah tentang rasa rinduhku padamu,aku menangis, namun Ibu selalu ada untuk mengusap air mataku. Aku memeluk Ibu. Aku bilang kepada ibu, aku rindu ayah. Ibu juga bilang kepadaku, ia juga sangat merindukan ayah. Tapi Ibu selalu bilang saat aku menangis, ayah tidak suka melihat keluarganya bersedih. Ayah ingin melihat kami tersenyum. Kalau kami sedih, ayah juga akan sedih. Kata Ibu kalau aku kangen ayah, lebih baik aku mendoakan ayah.
Ayah, kau tidak pernah pergi. Kau tetap hidup disetiap ukiran senyumanku, disepanjang perjalanan nafasku dan juga disetiap nasehatmu yang terus bertumbuh dalam hatiku. Sekalipun aku telah terhapus dari memorimu, namun masih ada Tuhan yang akan menceritakan kepada Ayah tentang semua peristiwa yang pernah diizinkanNya terjadi di rumah kita. Selamanya Ayah akan hidup. Sampai kapan pun Ayah akan tersimpan rapih disini, di dasar hatiku yang paling dalam. Karena Ayah adalah salah satu hal terbaik yang pernah hadir di rumah.
Ayah Aku sangat menghormati dan menyayangimu, bahkan rasa ini terasa masih kurang bila dibandingkan dengan perjuangan keras yang dilakukannya demi menghidupi kami. Ayah laki-laki yang pertama aku kenal di dunia ini, Ayah adalah pahlawan bagiku, Ayah adalah sosok yang hebat, ayah sangat sayang kepadaku, Ibu dan kakak-kakakku.. Ditengah kesibukannya ayah selalu meluangkan waktu yang ia punya untuk kami. Aku tidak marah ayah sibuk bekerja pada siang hari, karena aku selalu punya waktu dengan ayah pada malam hari. Kadang aku kasihan dengan ayah, pernah aku melihat wajah ayah begitu lelah, namun ayah tidak pernah mengeluh di depan kami. Ayah selalu tersenyum di depanku, namun semuanya tinggal kenangan.
Didalam kesunyian malam,tiba-tiba saja hati ini merasakan kesedihan yg sangat kuat. Ntah apa yg membuat perasaan ku seperti ini. dalam diam aku termenung sejenak berfikir.ternyata aku merindukan sosok seorang ayah.
Kini 2 tahun setelah kepergiannya, barulah aku merasa kehilangan. Saat-saat itulah rasa rinduku pada ayah menggebu dalam dadaku. Rindu melihat senyum dan tawanya, rindu ketika setelah mandi pagi ia membagikan segelas Teh denganku, rindu bercerita dengannya. Dan kini senyum dan tawa itu hanya bisa kulihat pada lembaran berbingkai yang kupajang di tembok kamarku.
Kini! Walaupun Aku sudah tumbuh dewasa, bagiku Aku tetap putri kecil yang Ayah milki, Ayah, aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali menggenggam jemarinmu, menyentuh kulitmu, berbagi cerita denganmu, dan melihatmu tertawa bahagia dengan ibu dan kakak-kakakku. Ayah, Aku ingin lebih menyadari lagi bahwa betapa kau sangat mencintaiku. Betapa kau sangat mengasihiku. Namun, tidak pernah sekali pun saya berterima kasih untuk semuanya itu. Saya belum sempat menjadi anak yang baik. Saya telah membuang begitu banyak moment yang ingin kau ukir bersamaku. Saya telah menyia-nyiakan waktu yang Tuhan sudah berikan kepadaku yang ternyata begitu singkat. Saya tidak lebih dari seorang gadis kecil yang manja dan nakal yang selalu merepotkanmu.
Aku teringat pesan Ayah, kalau anak yang baik adalah anak yang rajin ibadahnya. Kemudian Aku berusaha untuk tidak menangis, kalau Aku rindu Ayah, Aku akan mendoakannya untuk mengunjungi makam Ayah pada saat libur panjang, Aku ingin Ayah bahagia disana. Aku ingin agar Tuhan menjaga Ayah disana.
Ttp smngat.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus👍😢
BalasHapus